Rabu, 22 Oktober 2014

DUNIA FOTOGRAFY

 

Trik Menjadi Fotografer Handal dan Profesional

Apakah anda suka memotret??atau malah anda seorang fotografi ??? Bagi yang hobi fotografi tentunya kadang berpikir bagaimana memanfaatkan hoby dan ketrampilan foto ini untuk mendapatkan suatu penghasilan,atau bahkan ada yang bercita-cita ingin menjadi fotografer handal dan profesional.Sebetulnya menjadi seorang fotografi tidaklah harus mempunyai skill yang khusus namun Anda harus mempunyai dasar yang kuat, dasarnya adalah kemauan. Era Sekarang ini fotografer sudah bukan hal yang asing lagi,fotografer banyak bermunculan seperti jamur di musim hujan. Di tempat umum, kita bisa menemukan banyak orang yang berjalan-jalan sambil membawa kamera DSLR atau toycam yang dikalungkan di leher. Di Mall,taman bermain,di pantai, di daerah kota tua, cagar alam, dan tempat umum lainnya. Umurnya juga bervariasi. Mulai dari remaja labil sampai om-om yang kepalanya sudah botak dan berperut buncit.haha
Disini Saya tidak akan bicara teknik dan sebagainya. Biarlah itu jadi jatahnya teman-teman fotografer lain yang mengaku profesional. Mereka (mungkin) lebih kompeten dalam urusan teknis. Saya sih, tergolong biasa-biasa saja. Profesional bukan, amatir pun tidak.oke langsung pokok pembicaraan saja ya,hehe dibawah ini saya akan berbagi sedikit tips untuk Anda-anda semua yang mau bergabung di dunia photography, dan tentunya setiap orang mempunyai kiat tersendiri agar menjadi photographer yang handal:
1. Punya otot leher yang kuat
Ini adalah persyaratan utama, makanya saya simpan di nomer 1. Kenapa? Karena kamera DSLR itu lumayan berat. Apalagi kalau sudah ditambah aksesori tambahan seperti flash dan battery grip. Belum lagi kalau kameranya dipasangi lensa tele yang besar, panjang dan berat. Tidak percaya? Coba saja kalungkan kamera DSLR + flash + battery grip + lensa 70-200 mm lalu biarkan selama satu jam. Dijamin leher anda akan terasa sakit. Hehehe..
2. Jangan pernah bosan
Terkadang kita selalu jenuh karena sering melakukan sesuatu yang terus berulang, namun jangan khawatir apabila Anda mempunya keinginan yang kuat saya yakin Anda tidak akan cepat bosan apalagi jenuh, saran dari saya; jangan pernah menganggap pekerjaan Anda sebagai beban tapi anggaplah sebagai hoby yang menyenangkan. Betul tidak?
3. Kuat modal
Harga kamera dan peralatannya tergolong mahal. Kamera DSLR second saja harganya minimal 3 juta ke atas. Kalau menyewa pun, harganya berkisar dari 200 ribu per harinya. Kalau modalnya kulit badak, bisa saja meminjam kamera teman setiap akan memotret. Cuma, urat malu kita harus dipotong terlebih dahulu.Kalau tidak punya modal membeli dan malu meminjam kamera, cobalah untuk bekerja di industri yang berhubungan erat dengan dunia fotografi. Misalnya di media cetak, media elektronik, advertising, dll. Biasanya tempat-tempat seperti ini punya kamera inventaris untuk dipakai bekerja oleh karyawannya. Cuma, mau tak mau harus punya modal skill dan mental yang cukup untuk bertahan disana.Menjadi fotografer tidak selalu harus memiliki kamera. Saya pribadi tidak memiliki kamera. Bahkan kamera pocket pun tidak. Saya setiap hari memotret memakai kamera kantor. Gratis, dan dibayar pula. Hehehe..
4. Banyak membaca buku mengenai photographer
Apabila Anda seorang yang senang berselancar di dunia maya (surfing), banyak sekali artikel-artikel mengenai sejarah hingga teknik photographer Sobatpun dapat melihat contoh-contoh para photographer profesional, sehingga kemauan Sobat akan semakin terpacu.
5. Jangan asal jepret
Saya sering menemukan orang-orang yang ‘trigger happy’ dengan kameranya. Memotret dengan mode ‘burst shooting’ sehingga kameranya berbunyi seperi senapan mesin. “Klak! Klak! Klak! Klak! Klak!” Tapi waktu saya mengintip orang itu mem-preview hasilnya, tampak kalau hasilnya sama saja dengan memotret memakai kamera handphone. Buram, blur, dan tidak jelas.Padahal, pada kamera DSLR dikenal istilah ‘shutter count’ alias berapa kali sudah kamera itu dipakai memotret. Setelah sekian puluh ribu jepretan, shutter unit akan rusak dan harus diganti. Dan minimal harganya sekitar 1 juta, makanya sayang kalau dihabiskan untuk memotret dengan sia-sia.
Yah, kira-kira begitulah awalnya. Untuk selanjutnya, silakan dicoba dan dicari tahu sendiri. Lagipula kalau postingannya kepanjangan takutnya saya dibilang sok tahu oleh para ‘master’. Salam jepret!


3 komentar: